Senin, 25 Mei 2026

Sejarah Rumah Gadang Salo: Warisan Empat Abad yang Tak Lekang oleh Waktu



Di jantung ranah Minangkabau, tepatnya di Nagari Limbukan, berdiri sebuah bangunan yang bukan sekadar rumah, melainkan penanda zaman, saksi sejarah, dan penjaga identitas sebuah kaum: Rumah Gadang Salo. Lebih dari empat abad lamanya, bangunan ini tegak menantang waktu, menyimpan kisah panjang tentang asal-usul, kepemimpinan, adat, serta peradaban masyarakat Minangkabau yang berakar kuat pada nilai-nilai tradisi dan agama.

Rumah Gadang Salo tidak lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh dari rahim sejarah Minangkabau yang kaya akan dinamika sosial, budaya, dan spiritual. Berdirinya rumah ini pada tahun 1617 tidak dapat dipisahkan dari peran penting seorang tokoh yang kemudian dikenal sebagai Datuk Pucuk Rajo Batenang atau Dt. Paduko Alam. Sosok ini bukan hanya pemimpin administratif, tetapi juga figur penyebar agama, pembawa nilai, dan pemersatu masyarakat di wilayah yang saat itu masih dalam proses pembentukan identitas nagari.

Senin, 21 September 2020

Aneka Pakaian Adat Batipuh

Pakaian Khas Perempuan Batipuah "PAKAIAN TINGKULUAK BARANTAI"

Pakaian ini terdiri atas :
a. Tingkuluak Barantai
b. Baju Kuruang Beludru berwarna merah, biru, atau lembayung yang ditaburi dengan perak dan diberi "minsia" atau jahitan tepi/pinggir dengan benang emas
c. Salempang/Selendang
d. Kodek/Kain Sarung
e. Aksesoris : kaluang kudo, kaluang pinyaram, galang gadang, galang rago-rago "galang sawek"

Pakaian Tingkuluak Barantai dipakai untuk :
1. Mairingi anak daro
2. Anak daro manjalang rumah mintuo yg kaduo (maantaan labo setelah manampuah)
3. Untuk minantu yang sedang hamil pai makan gudie kundue ka rumah mintuo

Jumat, 01 Mei 2020

Surau Lubuak Bauak, Saksi Kisah Buya Hamka yang tak Sampai Dengan Rasidah


Prokabar – Mesjid Lubuk Bauak atau masyarakat setempat menyebutnya dengan “Surau Lubuk Bauak” terletak di daerah Nagari Lubuk Bauak abatipuh Baruh, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat. Surau ini pertama kali dibangun pada tahun 1896 dan rampung pada tahun 1901.


Walaupun letaknya berada di pinggir jalan raya Padang Panjang menuju Danau Singkarak dan Solok, namun pada kenyataanya hanya sedikit orang saja yang mengetahui sejarah dan apa yang tersimpan dibalik surau tersebut.

Sabtu, 25 April 2020

BENTENG ”VAN DER CAPELLEN” YANG TERLUPAKAN

Oleh : YHOHANNES NEOLDY, ST
Kabupaten Tanah Datar yang dikenal sebagai “Luhak Nan Tuo” merupakan salah satu wilayah yang terletak di tengah-tengah Propinsi Sumatera Barat dengan ibukota Batusangkar. Secara geografis wilayah Kabupaten Tanah Datar berada pada posisi 00° 17 “ LS - 00° 39 “ LS dan 100° 19’ BT 100° 51 BT, dengan luas wilayah 1.336 Km² atau 133.600 Ha dan terdiri dari 14 Kecamatan, 75 Nagari, serta 395 Jorong. Posisi Kabupaten Tanah Datar terletak diantara 3 buah gunung, yaitu Gunung Merapi, Gunung Singgalang dan Gunung Sago serta secara administrasi wilayahnya berbatasan dengan :


Ø Sebelah Utara Kab. Agam, Limo Puluh Koto


Ø Sebelah Selatan, Kab. Solok dan Kota Sawahlunto


Ø Sebelah Timur, Kab. Sijunjung


Ø Sebelah Barat, Kab. Pariaman dan Kota Padang Panjang Luasnya 133600 Ha / 1336 Km.

Sabtu, 07 Desember 2019

OBJEK WISATA DI KECAMATAN PARIANGAN



POTENSI OBJEK WISATA DI KECAMATAN PARIANGAN

                                                       
  Kuburan Panjang Dt. Tantejo Gerhano


Objek Wisaa ini terletak dilokasi Nagari pariangan. Yang  merupakan  objek wisata sejarah  dengan luas objek ± 629 m (dengan ukuran kuburan 25,5 x 7 m) dengan status tanah Milik Nagari.
Kuburan ini merupakan makam datuk  Tantejo Gerhano yang merupakan tokoh arsitek pembuatan balirung sari tabek . ukuran kuburannya sangat panjang yaitu 25,5 m dan lebar 7 m, sehingga terkenal dengan  nama “kubur panjang”. Nisanya hanya berupa batu kali tanpa pengerjaan. Pada ujung sisi timur lokasi situs makam ini terdapat bekas-bekas batu sandar sebanyak 8 buah. Hal ini menunjukan  bahwa stus tersebut  dahulu juga berfungsi  sebagai medan nan bapaneh.