Sabtu, 07 Desember 2019

OBJEK WISATA DI KECAMATAN V KAUM


POTENSI OBJEK WISATA DI KECAMATAN  V KAUM


   Mesjid Raya Lima Kaum

Objek wisata ini berada di Jorong Balai labuah Bawah Nagari Lima Kaum denga luas objek 25 x 25 m, dengan staus tanah dan pemilikan Nagari. Masjid ini termasuk masjid  tertua di kabupaten Tanah Datar . bentuk denanhnya bujur sangkar. Lantainya  berupa panggung dari kayu. Dindingnya suah diganti dnegan kaca nako, bagian yang masih benar-benar asli adalah tiang-tiang utamanya sebanyak 25 buah yang melambngkan jumlah ninik mamak dan penghulu.  Sedangkan tiang  gantung (Tiang atasnya berjumlah 15 melambangkan banyaknya imam dan Khatib . atapnya susun (tumpang) lima. Pada bagian atas atap kelima terdapat bagian puncak menara . untuk naik sampai ke bagian ini terdapat tangga naik sampai kebagian ini terdapat tangga naik doi bagian tengah pada lantai dasar. Bagian puncak   masjid ini atapnya berbentuk kerucut yang pada bagian atasnya  terdapat hiasan berbentuk catra seperti pada stupa candi.


  Benteng Van Der Capellen

Objek Wisata ini berada di kampung Baru nagari Baringin, dengan luasan objek ± 8880 M (luas bangunan 22 x 22 m) dengan stus tanah adalah Milik Pemda.  Dan kondisi saat ini benteng ini digunakan sebagai Kantor Dinas Kebudayan Pariwisata  Pemuda dan Olahraga .
Dahulu bangunan ini merupaan benteng pertanhan Belanda di batusangkar. Keberadaan benteng Van Der Capelen yanga da di Kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat tidak dapat dilepaskan  dengan peristiwa peperangan antar kaum adat dengan kaum agama yang terjadi pada sekitar tahun  1821. Konflik terbuka yang terbuka yang berupa peperangan fisik antara kaum Agma akhirnya dimenangkan oleh Kaum Agama. Kaum Adat kemudian meminta bantuan Belanda yang waktu itu berkedudukan di Padang. Dibawah pimpinan Kolonel Raff pasukan Belanda kemudian  masuk di daerah Tanah Datar untuk merampas gerakan Kaum agama. Sesampai di Batusangkar  Ibu kota Tanah Datar pasaukan Belanda  dipusatkan di tempat ketinggian 500 m dari permukaan laut. Pada tempat ketinggian inilah pasukan belanda sekaligus membangun  kubu pertahanan. Kubu pertahanan  yang dibangun Belanda  waktu itu berupa bangunan gedung dari beton yang mempunyai ketebalan dinding ± 75 cm beratapkan  genteng. Bangunan inilah kemudian diberi nama Bneteng Van Der Capellen sesuai dnegan nama  Gubernur Jenderal Belanda  Waktu itu.

  Gedung Indo Jalito

Objek Wisata ini berada di Kampung Baru Nagari Baringin dengan status kepemilikan tanah adalah pemda. Sedung ini berada di tengah Kota Batusangkar. Tepatnya di samping kiri Rumah Dinas  Bupati Tanah Datar. Bangunan ini  menunjukan arsitektur Beladna dengan tiang-tiang pilar dan dindingya  yang tebal dan kekar. Atapnya berbentuk persegi panjang. Dindingnya dari bata berlepa berwarna putih. Pembagian ruangannya adalah setengah sisi , seblah barat merupakan ruangan tamu. Disiis sebelah timur terbagi dalam dua ruangan dan bagian belakanga merupakan ruangan makan, Dahulu bangunan ini merupakan rumah kediaman dan kantor Asisten Residen di Batusangkar  semasa pemerintahan  Belanda . sekarang berfungsi untuk resepsi acara-acara penting tamu-tamu Pemda Tanah Datar.

  Makam Sultan Muningsyah
Objek Wisata  sejarah ini berada di Bukit Gombak dengan luas objek 3 x2,5 m(ukuran kuburan 2 x 1 m) statuskepmilihan tanah adalah kaum.  Makam ini merupkan makam Sultan Muningsyah yang merupakan salah satu Sultan semasa kerajaan Pagaruyung. Pada lokasi ini hanya berupa makam tunggal, dengan jirat susunan batu kali. Nisannya berupa nisan menhir tanpa pengerjaan. Untuk merawat keasrian makam ini diberi pagar keliling.

   Batu Batikam

Objek Wisata  sejarah ini berada di  Jorong Dusun Tuo Nagari Limo Kaum  dengan luas objek ±  1.800 m, dengan status tanah milik Nagari.
Situs ini sebenarnya merupakan medan nan Bapaneh yang berfungsi sebagai tempat musyawarah pada masa lampau. Susunan batu-batu sandarnya sebagai tempat duduk para ketua suku yang bersidang  masih ada dan membntuk formasi persegi panjang melingkar. Pada bagian tengah  medan nan bapaneh terdapt Batu Batikam (Batu berlubang) dari bahan batuan andesit, Batu ini berukuran tinggi 55 cm , tebal 20 cm dan lebar 45 cm berbentuk segi tiga.
Menurut kepercayaan tradisional Minangkabau ,, batu ini berlobang karena ditikam oleh batuk Parpatih nan Sabatang sebagai tanda berakhirnya perselisihan dengan Datuk Katemanggungan mengenai soal adat. Dalam adat minang kabau terdapt dua kelarasan yaitu kelarasan Koto Piliang(aristokrasi ) dan Bodi-Caniago (demokrasi). Dengan ditikamnya batu tersebut maka keuda kelarasan tersebut tetap diakui keberadaannya dalam  Masyarakat Minang Kabau

  Prasasti Kubu Rajo
Objek Wisata  sejarah ini berada di  Jorong  Kubu Rajo Nagari dengan luas objek ± 2.400 m, dengan status tanah/kepemilikan nagari. Situs ini merupakan tempat keberadaan prasasti Kuburajo yang berad di dalam cungkup perlindungan . prasasti  terbuat dari bahan batuan sanstone. Berukuran tinggi 108 cm, lebar 30 cm, dan tebal 10 cm. Batu Prasasti sudha dalam keadaan patah tetapi sudah disambung. Tulisannya sudah agak aus , tetapi masih dapat dibaca. Isi pokok prasasti tersebut adlah menuliskan tentang anak Adityawarman yang bernama  adityawarman sebagai Raja Tanah Emas (Sumatera)
Pad sisis timur terdapt cungkup perlindungan yang berisi :
-       Prasasti kuburajo II
-       Batu berpahat bunga matahari yang melambangkan  angka  tahun 1261 S (1339 M)
-       Batu berpahat bunga matahari yang melambangkan  angka  tahun 1273 S (1351 M)
-       Lumpang batu
-        
 Prasasti Saruaso II
Objek Wisata  sejarah ini berada di Jorong Kampung Baru Nagari Baringin dengan luas ± 1.196 m. Situs ini  merupakan tempat keberadaan  Prasasti Saruaso II sebelum dipindahkan di lokasi ini, berada di depan Gedung Indo Jolita. Prasasti  Saruaso II dituliskan pada sebuah batu persegi panjang, berukuran tinggi 100 cm,  lebar 75 cm, dan tebal 17 cm. Pada bagian tengah batu sudah patah, tetapi sudah disambung. Prasasti ini diletakkan  didalam cangkup perlindungan. Selain prasasti , di dalam cungkup perlindungan ini juga diletakkan
-       Lumbung batu dai bahan andesit, berukuran  diameter panjang 38 cm, diameter pendek 33 cm dan tebal (tinggi) 18 cm
-       Nisan dari makam dari bahan andesit kasar yang berukir pada keempat sisinya berukuran tinggi 30 cm dan tebal 12 cm
-       Batu menhir dari bahan andesit, berukuran tinggi 105 cm, lebar 22 cm dan tebal 23 cm
-       Fragmen menhir dari bahan batuan andesit, berukuran tinggi 35 cm , lebar 36 cm, dan tebal 22 cm.

   Medan Nan Bapaneh Koto Baranjak
Objek Wisata  sejarah ini berada di Nagari Baringin dengan luas objek 12 x 7 m , dengan status tanah adalah milik nagari.  Objek ini berda di pinggir jalan simpang baringin. Batu sandarannnya masih relatif lengkap berjumlah 15 buahh dengan formasi membentuk huruf U. Sisi  selatan tidak ada batu sandarnya. Dahulu Medan Bapaneh ini juga berfungsi untuk musyawarah adat bagi masyarakat di sekitarnya namun sekarang sudah menjadi dead monument dan tidak berfungsi lagi seperti semula.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar